Jumat, 04 September 2015

belajar positif

Hukum Truk Sampah
by David J. Pollay.

Suatu hari saya naik sebuah taxi menuju ke Bandara. Kami melaju pada  jalur yang benar, ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami, Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut.

Pengemudi mobil hitam tsb mengeluarkan kepalanya & memaki maki ke arah kami.
Supir taxi hanya tersenyum & melambai pada orang tersebut. Saya sangat heran dgn sikapnya yang bersahabat.
Saya bertanya, "Mengapa anda melakukannya ? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit?"

Saat itulah saya belajar dari supir taxi tersebut mengenai apa yang saya kemudian sebut "Hukum Truk Sampah".

Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan.
Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya & seringkali mereka membuangnya kepada anda.

Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, lalu lanjutkan hidup.
Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang anda temui di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan.

Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan "truk sampah" mengambil alih hari-hari mereka dengan  merusak suasana hati.

Hidup itu 10% mengenai apa yang kau buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu menyikapinya ...

You choose to be Happy or Grumpy !!

Hidup ini jangan diisi dengan penyesalan, maka kasihilah orang yang memperlakukan anda dengan benar, berdoalah bagi yang memperlakukan anda tidak benar

Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.
Jangan pernah menghakimi orang lain,
Biarlah kita menjadi pribadi bijak & mencoba belajar mengerti orang lain.

Selamat beraktifitas 'n barakAllah - GBU

kemana

kemana wana yang dulu. yang tidak membalas dengan kata kata. yang hanya membalas dengan senyum dan sabar. kemana wana yang dulu. yang cerdas dan bijak. bukan yang memandang orang dengan sebelah mata. kemana wana yang dulu. yang menghargai orang apa adanya. yang tidak peduli orang berkata apa. kemana wana yang dulu. yang tetap berbuat baik meski dijahati meski dikata katai. bukan membalas dengan kata yang lebih kasar. bukan yang peduli dengan hasutan orang. kemana wana yang dulu. penuh idealisme dan banyak mengerjakan sosial. bukan yang sekedar materi dan fisik. kemana wana yang dulu. semangat menjadi terbaik untuk ayah. bukan yang malah menghancurkan ayah. baik sosial, diri, ekonomi, maupun prestasi. kemana??